A.
Reinhold
Niebuhr
Reinhold Niebuhr
merupakan teolog Amerika, ahli etika, dan filsuf politik. Niebuhr dilahirkan di
kota Wright, Missouri, pada 21 Januari 1892. Ibunya adalah kedua generasi
Jerman Amerika. Ayahnya, seorang imigran Jerman, pendeta di Sinode Injili
Amerika Utara, keturunan Prusia Uni Gereja, yang didominasi Lutheran dengan
strain Kalvinisme. Di usia sepuluh tahun Niebuhr menyatakan bahwa ia ingin
menjadi seorang Menteri karena ayahnya adalah orang paling menarik di kota tersebut.
Setelah studi di sekolah-sekolah
keagamaan Elmhurst College dan Edentheological Seminari, Niebuhr masuk Yale
Divinity School, tempat dia memperoleh gelar M.A. (1915) dan B.D (1914). Sembari
memulai program studi doktor, ia menerima tugas penggembalaan di Detroit,
dengan alasan keuangan keluarga (ayahnya meninggal pada tahun 1913).[1]
Tulisan-tulisannya
yaitu: Moral Man and Immoral Society,
1932; An Interpretation of Christian
Ethics, 1935; Beyond Tragedy,
1938; Christianity and Power Politics,
1940; The Nature and Destiny of Man,
2 Vols., 1941-3; The Children of Light
and the Children of Darkness, 1944; Faith
and History, 1949; Christian Realism
and Political Problems, 1953; Pious
and Secular America, 1958.
(1) Mengembangkan
teologi Protestan disebut transendensi, di mana Allah dianggap sebagai
"Wholly other", Niebuhr menekankan adanya dosa asal karena kejatuhan
manusia. Kesombongan manusia dan keegoisan adalah tanda-tanda kejatuhan ini.
Ini adalah tragedi manusia yang ia dapat memahami kesempurnaan diri, meskipun
ia tidak dapat mencapainya. Dan meskipun manusia adalah semangat bebas dan
dengan demikian bertanggungjawab kepada Tuhan untuk menggunakan kebebasan ini,
ada sebuah elemen setan yang menanamkan semua tindakannya. Untuk alasan ini
perkembangan moral tidak hanya terjadi dalam sejarah.
(2) Secara politis,
Niebuhr percaya pada realisme liberal mampu mengenali irasionalitas manusia
untuk mengarahkan mereka secara rasional. Dalam penilaian semacam ini tampaknya
jelas baginya bahwa perubahan kelembagaan yang lebih penting daripada perubahan
hati berusaha mencapai masyarakat yang baik. Meskipun menentang utopis visi, ia
percaya dalam penciptaan sistem keadilan, dan penyesuaian sosial yang
diperlukan dalam rangka americal kapitalisme. Di luar politik, Niebuhr percaya
realisme Kristen, sebuah sudut pandang yang berlaku untuk perspektif sosial
wawasan transendensi yang disebutkan dalam (1) di atas.[2]
Keberatan Niebuhr
terhadap Social Gospel ialah gerakan ini mempunyai pandangan yang terlalu
optimis terhadap kenyataan manusia dan masyarakat, sehingga
penilaian-penilaiannya terlalu terasing dari kenyataan yang sebenarnya. Itulah
sebabnya gerakan ini menghadapi banyak kekecewaan. Niebuhr sendiri ingin lebih
realistis. Hal ini disebabkan ia sendiri mengalami perjalanan hidup yang
istimewa, terlebih-lebih karena praktiknya yang lama sebagai pendeta di kota
industry yang besar, yaitu selama 13 tahun bekerja di tengah-tengah para
pekerja Pabrik Ford. Di situlah ia terpesona akan liberalisasi yang tidak
sungguh-sungguh dan yang dikuasai oleh egoism. Itulah sebabnya ketika ia
menjadi guru besar perhatiannya dicurahkan pada persoalan-persoalan sosial.[3]
Untuk ini serangan
terhadap "liberalisme", Niebuhr sering disebut "neo-Orthodox"
istilah yang ia tidak sukai. Dia sudah menyinggung Ortodoks dengan
memperlakukan keyakinan "mitos", dan dia sudah menyinggung
kaum liberal dengan mengambil mitos tersebut "serius, tapi tidak secara
harfiah". Dia menyediakan interpretasi Kristen tentang keyakinan
penciptaan manusia dalam gambar Tuhan, kejatuhan, dosa asal, pembenaran oleh
iman dan kerajaan yang akan datang dari Allah.
Ide-ide utama. Niebuhr
sering membantah bahwa ia adalah seorang teolog. Dia kadang-kadang
menggambarkan dirinya adalah seorang pengkhotbah sirkuit-kuda dengan minat
etika. Dia punya sedikit ketertarikan basa-basi doktrin. Namun, wawasan kepala
telah bergema melalui seluruh teologi.[4]
Agama Kristen telah
mengubah bentuk mite-mite keagamaan yang primitive, tanpa dijadikannya rasional
sama sekali, umpamanya: mite penciptaan. Rantai sebab akibat yang besar, yang
menghubungkan “keberadaan” yang satu dengan “keberadaan” yang lain, tidak dapat
diterangkan dari hokum sebab akibat yang bersifat alami itu. Orang tidak akan
sampai pada sebab yang pertama.
Bukan hanya penciptaan,
melainkan juga kejatuhan ke dalam dosa diuraikan dalam bentuk mite. Namun
sebenarnya, kejatuhan dosa yang diuraikan dalam Kejadian 3 itu bukanlah suatu
fakta sejarah, melainkan dasar segala perbuatan kita. Oleh karena itu, “status
kebenaran” yang historis sebenarnya juga tidak ada (tidak pernah ada manusia
yang tanpa dosa). Yang dimaksud dengan “kesempurnaan” sebelum kejatuhan dosa
ialah “kesempurnaan” sebelum perbuatan dilakukan.
Menurut Niebuhr, Social
Gospel tidak mempunyai pengertian tentang manusia karena Social Gospel tidak
memperhitungkaan dosa, dengan akibat hubungan paradoksal antara yang terbatas
dengan yang tidak terbatas ditiadakan. Ajaran Alkitab tidaklah demikian.
Menurut Niebuhr, mite Alkitab tentang kejatuhan ke dalam dosa menunjukkan jalan
keluar yang benar terhadap persoalan tentang kebebasan dan dosa. [5]
B.
H.
Richard Niebuhr
Helmut Richard Niebuhr
adalah seorang teolog Amerika. Lahir di kota Wright, Missouri. Pendidikan di
Elmhurst College, Eden Theological Seminary, Washington University, Universitas
di Chicago,Yale Divinity School. Mengajar di Eden Theological Seminary, dan
Yale Divinity School.
Tulisan-tulisan
teologisnya antara lain: Moral Relativism
and the Christian Ethic, 1929; The
Social Sources of Denominationalism, 1929; The Kingdom of God in America, 1937; Christ and Culture, 1951; Radical
Monotheism and Western Culture, 1960; The
Responsible Self: An Essay in Christian Moral Philosophy, 1963.[6]
Dasar pemikiran etis
H.R. Niebuhr terdapat dalam cara berpikir yang Trinitas, dengannya ia mengakui
bahwa Allah itu Alkhalik, Pemerintah, Hakim, dan Penyelamat. Namun, pengertian
tentang Allah yang Tritunggal ini bukan diuraikan secara teoretis, sebab
pengertian itu dipandang sebagai sebagian dari pengalaman masyarakat susila yang
menganggap dirinya bertanggung jawab terhadap Allah.[7]
Di satu pihak Niebuhr
menolak pendirian teologi liberal yang mengambil etikanya hanya dari ajaran
Yesus, dan di lain pihak ia menolak pendirian golongan fundamentalis yang
menganggap Alkitab sebagai satu-satunya sumber pengetahuan kita mengenai
tanggung jawab kita dalam hidup moral. H.R Niebuhr tidak yakin, bahwa segala
hikmat itu hanya berasal dari Alkitab saja. Menurutnya hikmat dapat diterima
juga dari ilmu filsafat, dari ilmu jiwa dan ilmu-ilmu kemasyarakatan. Sekalipun
demikian, ia mengakui juga wibawa Alkitab, namun wibawa itu ialah “wibawa
penengah”, yang diturunkan dari “wibawa yang lain”. Hanya Allahlah yang
memiliki wibawa yang mutlak.[8]
Salah satu puncak etika
H.R. Niebuhr terdapat dalam bukunya Christ
and Culture (Kristus dan Kebudayaan), yang ditulis pada tahun 1951. Di sini
dikemukakan bahwa bahaya yang paling besar yang mengancam gereja bukan berasal
dari luar, melainkan dari dalam gereja itu sendiri, yaitu bahwa gereja
menyesuaikan diri dengan struktur-struktur kemasyarakatan yang ada. Di dalam
buku ini Niebuhr mengemukakan lima pola sikap gereja terhadap kebudayaan,
seperti yang telah terjadi didalam sejarah.
Pola pertama disebutnya
sikap gereja yang menentang kebudayaan. Dalam sikap ini orang Kristen menentang
kebudayaan, ia harus memilih di antara dua, yaitu Kristus atau kebudayaan.
Menurut Niebuhr, di dalam Alkitab sudah tampak gejala-gejala yang demikian itu,
yang paling jelas tercantum dalam Surat 1 Yohanes.
Pola kedua diungkapkan
dalam Christ of Culture (Kristus dari
Kebudayaan). Sikap ini berkeyakinan bahwa Kristuslah yang memiliki kebudayaan.
Oleh karena itu, orang beriman harus berusaha menyesuaikan diri dengan
masyarakat. Tetapi tidak semua unsur kebudayaan diterima, hanya yang baik-baik
saja dan yang cocok dengan kepercayaan Kristiani. Oleh mereka Kristus dipandang
sebagai Yang menggenapi kekurangan cita-cita masyarakat.
Pola ketiga diungkapkan
dalam Christ above Culture (Kristus
di atas Kebudayaan). Dalam sikap ini Kristus di satu pihak dipandang sebagai
Yang menggenapi kekurangan kebudayaan, namun di lain pihak Ia dipandang berbeda
dengan kebudayaan.
Pola sikap yang keempat
dirumuskan dengan ungkapan Christ and
Culture in Paradox (Kristus dan Kebudayaan dalam Paradoks, atau Perlawanan
yang Asasi). Di sini orang memisahkan Kristus secara asasi dari kebudayaan.
Pola sikap kelima
dirumuskan oleh Niebuhr dengan ungkapan Christ Transforming Culture (Kristus
mengubah/membarui Kebudayaan). Orang-orang ini (Yohanes Calvin, H.R. Niebuhr)
tidak buta terhadap segala kejahatan di dalam masyarakat. Sekalipun demikian,
kebudayaan tidak ditolak dan tidak dihindari oleh mereka. Orang Kristen wajib
memperbaiki masyarakat-masyarakat itu. Sikap inilah yang dianjurkan oleh H.R.
Niebuhr.
Dengan ini secara
singkat telah dikemukakan usaha Niebuhr bersaudara untuk mengubah pemikiran
teologi di Amerika Serikat.[9]
[1]William L. Reese, “Dictionary of Philosophy and Religion”,
(New York: Humanity Books), h.431
[2]The Encyclopedia of Religion,
(New York: MACMILLAN LIBRARY REFERENCE USA, Vol.IX), h.522
[3]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”,
(Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2004, Cet.VI), h.167
[4]William L. Reese, “Dictionary of Philosophy and Religion”,
h.433
[5]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.
170-172
[6]The Encyclopedia of Religion,
(New York: MACMILLAN LIBRARY REFERENCE USA, Vol.IX), h.521
[7]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.176
[8]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.180
[9]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”,
h.182-185