Senin, 03 Oktober 2016

Reinhold Niebuhr

A.   Reinhold Niebuhr
Reinhold Niebuhr merupakan teolog Amerika, ahli etika, dan filsuf politik. Niebuhr dilahirkan di kota Wright, Missouri, pada 21 Januari 1892. Ibunya adalah kedua generasi Jerman Amerika. Ayahnya, seorang imigran Jerman, pendeta di Sinode Injili Amerika Utara, keturunan Prusia Uni Gereja, yang didominasi Lutheran dengan strain Kalvinisme. Di usia sepuluh tahun Niebuhr menyatakan bahwa ia ingin menjadi seorang Menteri karena ayahnya adalah orang paling menarik di kota tersebut.
Setelah studi di sekolah-sekolah keagamaan Elmhurst College dan Edentheological Seminari, Niebuhr masuk Yale Divinity School, tempat dia memperoleh gelar M.A. (1915) dan B.D (1914). Sembari memulai program studi doktor, ia menerima tugas penggembalaan di Detroit, dengan alasan keuangan keluarga (ayahnya meninggal pada tahun 1913).[1]
Tulisan-tulisannya yaitu: Moral Man and Immoral Society, 1932; An Interpretation of Christian Ethics, 1935; Beyond Tragedy, 1938; Christianity and Power Politics, 1940; The Nature and Destiny of Man, 2 Vols., 1941-3; The Children of Light and the Children of Darkness, 1944; Faith and History, 1949; Christian Realism and Political Problems, 1953; Pious and Secular America, 1958.
(1) Mengembangkan teologi Protestan disebut transendensi, di mana Allah dianggap sebagai "Wholly other", Niebuhr menekankan adanya dosa asal karena kejatuhan manusia. Kesombongan manusia dan keegoisan adalah tanda-tanda kejatuhan ini. Ini adalah tragedi manusia yang ia dapat memahami kesempurnaan diri, meskipun ia tidak dapat mencapainya. Dan meskipun manusia adalah semangat bebas dan dengan demikian bertanggungjawab kepada Tuhan untuk menggunakan kebebasan ini, ada sebuah elemen setan yang menanamkan semua tindakannya. Untuk alasan ini perkembangan moral tidak hanya terjadi dalam sejarah.
(2) Secara politis, Niebuhr percaya pada realisme liberal mampu mengenali irasionalitas manusia untuk mengarahkan mereka secara rasional. Dalam penilaian semacam ini tampaknya jelas baginya bahwa perubahan kelembagaan yang lebih penting daripada perubahan hati berusaha mencapai masyarakat yang baik. Meskipun menentang utopis visi, ia percaya dalam penciptaan sistem keadilan, dan penyesuaian sosial yang diperlukan dalam rangka americal kapitalisme. Di luar politik, Niebuhr percaya realisme Kristen, sebuah sudut pandang yang berlaku untuk perspektif sosial wawasan transendensi yang disebutkan dalam (1) di atas.[2]
Keberatan Niebuhr terhadap Social Gospel ialah gerakan ini mempunyai pandangan yang terlalu optimis terhadap kenyataan manusia dan masyarakat, sehingga penilaian-penilaiannya terlalu terasing dari kenyataan yang sebenarnya. Itulah sebabnya gerakan ini menghadapi banyak kekecewaan. Niebuhr sendiri ingin lebih realistis. Hal ini disebabkan ia sendiri mengalami perjalanan hidup yang istimewa, terlebih-lebih karena praktiknya yang lama sebagai pendeta di kota industry yang besar, yaitu selama 13 tahun bekerja di tengah-tengah para pekerja Pabrik Ford. Di situlah ia terpesona akan liberalisasi yang tidak sungguh-sungguh dan yang dikuasai oleh egoism. Itulah sebabnya ketika ia menjadi guru besar perhatiannya dicurahkan pada persoalan-persoalan sosial.[3]
Untuk ini serangan terhadap "liberalisme", Niebuhr sering disebut "neo-Orthodox" istilah yang ia tidak sukai. Dia sudah menyinggung Ortodoks dengan memperlakukan keyakinan  "mitos", dan dia sudah menyinggung kaum liberal dengan mengambil mitos tersebut "serius, tapi tidak secara harfiah". Dia menyediakan interpretasi Kristen tentang keyakinan penciptaan manusia dalam gambar Tuhan, kejatuhan, dosa asal, pembenaran oleh iman dan kerajaan yang akan datang dari Allah.
Ide-ide utama. Niebuhr sering membantah bahwa ia adalah seorang teolog. Dia kadang-kadang menggambarkan dirinya adalah seorang pengkhotbah sirkuit-kuda dengan minat etika. Dia punya sedikit ketertarikan basa-basi doktrin. Namun, wawasan kepala telah bergema melalui seluruh teologi.[4]
Agama Kristen telah mengubah bentuk mite-mite keagamaan yang primitive, tanpa dijadikannya rasional sama sekali, umpamanya: mite penciptaan. Rantai sebab akibat yang besar, yang menghubungkan “keberadaan” yang satu dengan “keberadaan” yang lain, tidak dapat diterangkan dari hokum sebab akibat yang bersifat alami itu. Orang tidak akan sampai pada sebab yang pertama.
Bukan hanya penciptaan, melainkan juga kejatuhan ke dalam dosa diuraikan dalam bentuk mite. Namun sebenarnya, kejatuhan dosa yang diuraikan dalam Kejadian 3 itu bukanlah suatu fakta sejarah, melainkan dasar segala perbuatan kita. Oleh karena itu, “status kebenaran” yang historis sebenarnya juga tidak ada (tidak pernah ada manusia yang tanpa dosa). Yang dimaksud dengan “kesempurnaan” sebelum kejatuhan dosa ialah “kesempurnaan” sebelum perbuatan dilakukan.
Menurut Niebuhr, Social Gospel tidak mempunyai pengertian tentang manusia karena Social Gospel tidak memperhitungkaan dosa, dengan akibat hubungan paradoksal antara yang terbatas dengan yang tidak terbatas ditiadakan. Ajaran Alkitab tidaklah demikian. Menurut Niebuhr, mite Alkitab tentang kejatuhan ke dalam dosa menunjukkan jalan keluar yang benar terhadap persoalan tentang kebebasan dan dosa. [5]

B.   H. Richard Niebuhr

Helmut Richard Niebuhr adalah seorang teolog Amerika. Lahir di kota Wright, Missouri. Pendidikan di Elmhurst College, Eden Theological Seminary, Washington University, Universitas di Chicago,Yale Divinity School. Mengajar di Eden Theological Seminary, dan Yale Divinity School.
Tulisan-tulisan teologisnya antara lain: Moral Relativism and the Christian Ethic, 1929; The Social Sources of Denominationalism, 1929; The Kingdom of God in America, 1937; Christ and Culture, 1951; Radical Monotheism and Western Culture, 1960; The Responsible Self: An Essay in Christian Moral Philosophy, 1963.[6]
Dasar pemikiran etis H.R. Niebuhr terdapat dalam cara berpikir yang Trinitas, dengannya ia mengakui bahwa Allah itu Alkhalik, Pemerintah, Hakim, dan Penyelamat. Namun, pengertian tentang Allah yang Tritunggal ini bukan diuraikan secara teoretis, sebab pengertian itu dipandang sebagai sebagian dari pengalaman masyarakat susila yang menganggap dirinya bertanggung jawab terhadap Allah.[7]
Di satu pihak Niebuhr menolak pendirian teologi liberal yang mengambil etikanya hanya dari ajaran Yesus, dan di lain pihak ia menolak pendirian golongan fundamentalis yang menganggap Alkitab sebagai satu-satunya sumber pengetahuan kita mengenai tanggung jawab kita dalam hidup moral. H.R Niebuhr tidak yakin, bahwa segala hikmat itu hanya berasal dari Alkitab saja. Menurutnya hikmat dapat diterima juga dari ilmu filsafat, dari ilmu jiwa dan ilmu-ilmu kemasyarakatan. Sekalipun demikian, ia mengakui juga wibawa Alkitab, namun wibawa itu ialah “wibawa penengah”, yang diturunkan dari “wibawa yang lain”. Hanya Allahlah yang memiliki wibawa yang mutlak.[8]
Salah satu puncak etika H.R. Niebuhr terdapat dalam bukunya Christ and Culture (Kristus dan Kebudayaan), yang ditulis pada tahun 1951. Di sini dikemukakan bahwa bahaya yang paling besar yang mengancam gereja bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam gereja itu sendiri, yaitu bahwa gereja menyesuaikan diri dengan struktur-struktur kemasyarakatan yang ada. Di dalam buku ini Niebuhr mengemukakan lima pola sikap gereja terhadap kebudayaan, seperti yang telah terjadi didalam sejarah.
Pola pertama disebutnya sikap gereja yang menentang kebudayaan. Dalam sikap ini orang Kristen menentang kebudayaan, ia harus memilih di antara dua, yaitu Kristus atau kebudayaan. Menurut Niebuhr, di dalam Alkitab sudah tampak gejala-gejala yang demikian itu, yang paling jelas tercantum dalam Surat 1 Yohanes.
Pola kedua diungkapkan dalam Christ of Culture (Kristus dari Kebudayaan). Sikap ini berkeyakinan bahwa Kristuslah yang memiliki kebudayaan. Oleh karena itu, orang beriman harus berusaha menyesuaikan diri dengan masyarakat. Tetapi tidak semua unsur kebudayaan diterima, hanya yang baik-baik saja dan yang cocok dengan kepercayaan Kristiani. Oleh mereka Kristus dipandang sebagai Yang menggenapi kekurangan cita-cita masyarakat.
Pola ketiga diungkapkan dalam Christ above Culture (Kristus di atas Kebudayaan). Dalam sikap ini Kristus di satu pihak dipandang sebagai Yang menggenapi kekurangan kebudayaan, namun di lain pihak Ia dipandang berbeda dengan kebudayaan.
Pola sikap yang keempat dirumuskan dengan ungkapan Christ and Culture in Paradox (Kristus dan Kebudayaan dalam Paradoks, atau Perlawanan yang Asasi). Di sini orang memisahkan Kristus secara asasi dari kebudayaan.
Pola sikap kelima dirumuskan oleh Niebuhr dengan ungkapan Christ Transforming Culture (Kristus mengubah/membarui Kebudayaan). Orang-orang ini (Yohanes Calvin, H.R. Niebuhr) tidak buta terhadap segala kejahatan di dalam masyarakat. Sekalipun demikian, kebudayaan tidak ditolak dan tidak dihindari oleh mereka. Orang Kristen wajib memperbaiki masyarakat-masyarakat itu. Sikap inilah yang dianjurkan oleh H.R. Niebuhr.
Dengan ini secara singkat telah dikemukakan usaha Niebuhr bersaudara untuk mengubah pemikiran teologi di Amerika Serikat.[9]






[1]William L. Reese, “Dictionary of Philosophy and Religion”, (New York: Humanity Books), h.431
[2]The Encyclopedia of Religion, (New York: MACMILLAN LIBRARY REFERENCE USA, Vol.IX), h.522
[3]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2004, Cet.VI), h.167
[4]William L. Reese, “Dictionary of Philosophy and Religion”, h.433
[5]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h. 170-172
[6]The Encyclopedia of Religion, (New York: MACMILLAN LIBRARY REFERENCE USA, Vol.IX), h.521
[7]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.176
[8]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.180
[9]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.182-185

Jumat, 18 Desember 2015

KARL BARTH NEO-ORTODOKSI

 KARL BARTH NEO-ORTODOKSI
Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Syarat
Matakuliah : TEOLOGI KRISTEN
Oleh
Ismail Sholeh
Nim : 1113032100040



 



JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015



A.    BIOGRAFI KARL BARTH
Karl Barth (10 Mei 1886 – 10 Desember 1968) adalah seorang teolog Kristen Hervormd yang berpengaruh. Barth dilahirkan di Basel, Swiss dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di Bern. Ia lahir dari seorang ayah beranama Fritz Barth (profesor Perjanjian Baru dan sejarah gereja mula-mula di Bern) dan seorang ibu, Anna Sartorius. Ia belajar di universitas-universitas terbaik: Bern, Berlin, Tübingen, dan Marburg di bawah pengajaran teolog liberal yang terkenal seperti Adolph von Harnack dan Wilhelm Herrmann. Meskipun Barth tidak didukung oleh ayahnya, ia tertarik pada pengajaran Harnack dan secara khusus menjadi tertarik pada teologi pengalaman dari Schleiermacher. Di Berlin ia belajar dari tokoh-tokoh liberal terkenal, yang mengajarkan Kekristenan yang lebih berfokus pada kebapaan Tuhan dan persaudaraan umat manusia.
Pada tahun 1909-1911 Barth melayani Gereja di Jenewa, Swiss, dan 1911 hingga 1921 ia melayani sebagai seorang pendeta Hervormd di desa Safenwil di kanton Aargau. Belakangan ia menjadi profesor teologi di Bonn (Jerman). Ia harus meninggalkan Jerman pada 1935 setelah ia menolak mengucapkan sumpah kesetiaan kepada Adolf Hitler. Barth kembali ke Swiss dan menjadi profesor di Basel.
Barth mulanya belajar dalam tradisi Liberalisme Protestan Jerman di bawah asuhan guru-guru seperti Wilhelm Herrmann, namun ia bereaksi terhadap teologi ini pada masa Perang Dunia I. Reaksinya didorong oleh sejumlah faktor, termasuk komitmennya terhadap gerakan Sosialis Religius Jerman dan Swiss di sekitar orang-orang seperti Herrmann Kutter, pengaruh gerakan Realisme Alkitab di sekitar orang-orang seperti Christoph Blumhardt, dan dampak dari filsafat skeptis dari Franz Overbeck.
Pada dekade setelah Perang Dunia I, Barth terkait dengan sejumlah teolog lainnya, yang sesungguhnya sangat berbeda-beda pandangannya, yang bereaksi terhadap liberalisme guru-gurunya, dalam sebuah gerakan yang dikenal sebagai "Teologi Dialektis" (bahasa Jerman: Dialektische Theologie). Para anggota lain dari gerakan ini termasuk Rudolf Bultmann, Eduard Thurneysen, Emil Brunner, dan Friedrich Gogarten.
Pada tahun 1921, Barth diundang untuk melayani sebagai dosen teologi Reformasi di Universitas Gottingen. Barth mengajar bukan hanya tentang tradisi Reformasi, melainkan juga memberikan eksposisi kitab-kitab di Alkitab. Dari tahun 1925 sampai 1930, Barth mengajar di Munster, di mana ia juga mulai menulis kedua belas Jilid Church Dogmatics-nya yang terkenal itu –merupakan magnum opus-nya. Setelah itu Barth mengajar di Bonn dari 1930 sampai 1935, tetapi ketika ia menolak untuk setia pada Hitler, ia dipaksa untuk keluar dari Jerman dan Barth kembali ke Basel. Di Basel Barth mengajar sampai pension tahun 1962.

B.     PEMIKIRAN DAN KARYA BARTH
Pada tahun 1918 lahirlah Commentary on the Epistle to the Romans, yang merupakan respon terhadap kondisi realitas disekitarnya yang materealistik, terutama Swiss pada waktu itu. Kecemasan kelemahan moral teologi liberal juga berperan penting dalam lahirnya tulisan ini. Barth memaparkan tentang kedaulatan mutlak dan kemerdekaan sempurna Allah dalam memprakarsai pewahyuan di dalam Yesus Kristus. "Kasih Allahlah yang menyadari perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia dan antara Allah dan dunia," tulisnya. Banyak teolog yang percaya bahwa karya ini merupakan risalat teologis yang paling penting sejak buku Friedrich Schleiermacher On Religion: Speeches to its Cultured Despisers (Tentang Agama: Pidato kepada Para Pencemoohnya yang Beradab).
Dalam hal Bibliografi, ia mensejajarkan Alkitab dengan Firman Tuhan. Barth menolak pemahaman tentang suatu tulisan Firman yang tanpa salah, yang disebut sebagai konsep "paus kertas", bagi Barth para penulis Kitab Suci hanya sekadar berkaitan pada pengalaman mereka berkaitan dengan wahyu Tuhan, Dalam membaca catatan mereka, seseorang juga dapat mengalami wahyu Tuhan.
Barth mengkategorikan Firman Tuhan ke dalam tiga wilayah, per-tama Firman yang diwahyukan" adalah Tuhan menyatakan diri-Nya sendiri dengan berbicara pada para rasul dan para nabi, ke-dua "Firman yang tertulis" adalah deposit wahyu yang dibuat oleh manusia, karena manusia yang menulis Alkitab, maka hal itu tidak dapat disejajarkan dengan Firman Tuhan, ke-tiga "Firman yang dikhotbahkan" adalah proklamasi dari Firman, dan pada waktu anugerah Tuhan memasuki seseorang, maka Alkitab menjadi Firman Tuhan.
Keseriusan Barth terhadap Alkitab inilah yang kemudian melahirkan karya pentingnya, yaitu Dogmatika Gereja (bahasa Jerman: "Die Kirchliche Dogmatik") yang terdiri dari 13 jilid. Dogmatika Gereja Barth menjadi menarik karena ia ditulis menggunakan Alkitab, bukan filsafat liberal sebagai dasarnya –sebagaimana yang dilakukan oleh bnyak teolog semasanya. Meskipun demikian, ia tidak percaya bahwa kebenaran dapat dinyatakan dalam propasisi doctrinal, menurutnya, kebenaran-kebenaran adalah perjumpaan melalui pernyataan Allah sendiri di dalam Kristus.
Dogmatika Gereja merupakan puncak dari keberhasilan Barth sebagai seorang teolog. Rangkaian tulisan ini dianggap sebagai salah satu karya teologis yang terpenting dari segala zaman. Barth mulai menulis Dogmatika itu pada 1932, dan terus mengerjakannya hingga ajal menjemputnya pada 1968.

C.     SEKITAR KRISTOLOGI
            Barth menekankan sentralitas dari Yesus Kristus dalam teologinya. Kristus harus menjadi titik awal dan pusat dari teologi. Menurut Barth, tanpa Kristus maka tidak ada pewahyuan. Injil dimulai dengan ketetapan kekal, pemilihan Yesus Kristus. Barth mengajarkan bahwa predestinasi adalah pemilihan terhadap Yesus Kristus. Kristus adalah Allah yang memilih dan manusia yang dipilih, Pemilihan Kristus berarti pemilihan dari komunitas. Dalam pembahasannya tentang pemilihan ganda, Barth mengajarkan bahwa Allah dan Kristus mengampuni dengan menanggung konsekuensi dosa yang seharusnya ditanggung oleh manusia –hal inilah yang kemudian sering mendapat kritikan dari teolog lain karena condong ke fagam universalisme, yaitu suatu kepercayaan di mana semua umat manusia pada akhirnya akan diselamatkan. pada saat yang sama, umat manusia dipilih dan mendapatkan keselamatan dan partisipasi dalam kemuliaan Allah. Barth menunjuk pada pemilihan komunitas seperti Israel yang menolak pemilihan atas dirinya dan seperti gereja yang adalah dasar dari pemilihan. Ia akhirnya menjelaskan pemilihan individu, "yang lain" –sebagaian besar di mana tidak ada pengecualian. universalisme, Karena Kristus telah menanggung dosa semua orang, maka semua orang tidak lagi ditola

D.       NEO-ORTODOKSI  
Dari istilah yang digunakan kita dapat mendeteksi dua elemen di sana: neo (baru) dan ortodoksi (ajaran yang benar). Makna sekilas yang tersirat bisa membingungkan. Apakah neo-ortodoksi berbicara tentang kebenaran yang selama berabad-abad tersembunyi dan baru ditemukan oleh Barth pada abad ke-20 M? Tentu saja tidak!
Pertama-tama kita perlu memahami situasi zaman di mana Barth hidup dan memformulasikan teologinya. Pada masa itu dunia teologi dikuasai oleh orang-orang liberal, terutama di negara Jerman. Barth adalah salah satu teolog dari gereja yang bertradisi Reformed yang ingin memberikan respon terhadap liberalisme. Ia menganggap bahwa para teolog liberal telah melangkah terlalu jauh. Ia ingin meneguhkan ortodoksi.
Sayangnya, ajaran Barth sendiri tidak memadai. Apa yang ia formulasikan memang berbeda dengan liberalisme, tetapi tidak termasuk dalam batasan ortodoksi. Konsep dasar dalam teologi Barth sebenarnya tidak jauh berbeda dengan liberalisme. Karena itu, ortodoksinya diberi tambahan label “neo”.
Apa yang diajarkan Barth sehingga teologinya dijuluki neo-ortodoks? Seperti sudah disinggung di atas, Barth berusaha menentang liberalisme yang menempatkan Alkitab hanya sebagai kitab kuno biasa tulisan para manusia yang bisa salah. Jika otoritas Alkitab sebagai firman Allah ditolak, maka doktrin-doktrin di dalamnya pun tidak lagi dipercayai. Kesejarahan Yesus ditolak. Doktrin tentang pewahyuan, dosa, penebusan dianggap tidak relevan.
Barth mengusulkan sebuah pemahaman baru tentang Alkitab. Berbeda dengan orang-orang injili yang memegang “Alkitab adalah firman Allah,” Barth memahami Alkitab sebagai sebuah kesaksian tentang firman Allah, yaitu kesaksian tentang Yesus sebagai firman Allah. Jadi, Alkitab hanyalah firman Allah sejauh Alkitab memberi kesaksian tentang Yesus.
Barth berpendapat bahwa Alkitab adalah sebuah sarana perjumpaan dengan firman Allah. Alkitab bisa saja salah dan tidak berkuasa, namun tatkala isi Alkitab menyentuh hati seseorang, maka itulah yang disebut firman Allah. Jadi, esensi firman Allah tidak terletak pada Alkitab, tapi pada perjumpaan pribadi dengan Kristus melalui Alkitab.
Konsep yang terakhir ini dapat disejajarkan dengan pembedaan antara rhēma dan logos di kalangan gereja-gereja tertentu: yang tertulis adalah logos, tetapi dalam pembacaan atau pemberitaan ogos itu berubah menjadi rhēma. Selain dari sisi studi kata pembedaan logos dan rhēma adalah sangat keliru (logos dan rhēma adalah sinonim), pembedaan ini dari sisi teologis juga menyesatkan.
Alkitab adalah firman Allah. Alkitab bukan hanya berisi firman Allah, memberi kesaksian tentang firman Allah, atau menjadi sarana perjumpaan dengan firman Allah. Respon manusia – apakah mereka mengerti dan menerima firman Tuhan atau tidak – bukan ukuran bagi otoritas firman Allah. Alkitab tetap firman Tuhan yang berkuasa, terlepas dari apa pun respon manusia terhadap Alkitab. Jika manusia meresponi dengan pengertian, penerimaan, dan ketundukan, firman Allah berkuasa untuk mengubahkan mereka. Jika manusia menolaknya, firman yang sama berkuasa untuk menghakimi mereka.
Esensin dari neo-ortodoksi adalah sebagai berikut." Alkitab bukan wahyu, tetapi kesaksian dari wahyu; hal itu tidak sama secara objektif dengan Firman Allah; wahyu Allah bukan dalam perkataan. Yesus Kristus adalah poin fokal dari wahyu Allah: manusia berjumpa dengan Allah dalam pengalaman perjumpaan dengan Yesus Kristus. Peristiwa-peristiwa dari Kitab Suci, seperti kebangkitan Kristus, diistilahkan geschichte, "cerita", sebagai kontras dengan historie, "sejarah". Geschichte menunjuk pada ketransendenan, kebenaran berdasarkan pengalaman akan Allah yang tidak dipengaruhi oleh kebenaran atau kekeliruan yang merupakan karakteristik dari partikular historie yang terikat dengan bumi. Historie secara historis dapat diverifikasi, karena itu, level yang lebih rendah dari Kitab Suci di mana kesalahan-kesalahan dapat dan telah ditemukan. Geschichte secara historis tidak dapat diverifikasi dan, karena itu, level yang lebih tinggi dari Kitab Suci di mana kesalahan-kesalahan tidak dapat ditemukan. Karena itu, tidaklah penting apakah cerita-cerita di Alkitab itu benar¬benar terjadi dalam ruang dan waktu; fakta bahwa banyak catatan Alkitab adalah "mite" atau "saga" tidak mempengaruhi artinya yang lebih tinggi dan keabsahannya. Allah adalah transenden, "yang sama sekali lain", Perbedaan yang tajam ada antara manusia dan Allah; manusia dapat bersekutu dengan Allah hanya melalui suatu "loncatan iman".