KARL
BARTH NEO-ORTODOKSI
Makalah
Disusun
Untuk Memenuhi Syarat
Matakuliah
: TEOLOGI KRISTEN
Oleh
Ismail
Sholeh
Nim
: 1113032100040
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2015
A. BIOGRAFI
KARL BARTH
Karl Barth (10 Mei 1886
– 10 Desember 1968) adalah seorang teolog Kristen Hervormd yang berpengaruh.
Barth dilahirkan di Basel, Swiss dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di Bern.
Ia lahir dari seorang ayah beranama Fritz Barth (profesor Perjanjian Baru dan
sejarah gereja mula-mula di Bern) dan seorang ibu, Anna Sartorius. Ia belajar
di universitas-universitas terbaik: Bern, Berlin, Tübingen, dan Marburg di bawah
pengajaran teolog liberal yang terkenal seperti Adolph von Harnack dan Wilhelm
Herrmann. Meskipun Barth tidak didukung oleh ayahnya, ia tertarik pada
pengajaran Harnack dan secara khusus menjadi tertarik pada teologi pengalaman
dari Schleiermacher. Di Berlin ia belajar dari tokoh-tokoh liberal terkenal,
yang mengajarkan Kekristenan yang lebih berfokus pada kebapaan Tuhan dan
persaudaraan umat manusia.
Pada tahun 1909-1911
Barth melayani Gereja di Jenewa, Swiss, dan 1911 hingga 1921 ia melayani
sebagai seorang pendeta Hervormd di desa Safenwil di kanton Aargau. Belakangan
ia menjadi profesor teologi di Bonn (Jerman). Ia harus meninggalkan Jerman pada
1935 setelah ia menolak mengucapkan sumpah kesetiaan kepada Adolf Hitler. Barth
kembali ke Swiss dan menjadi profesor di Basel.
Barth mulanya belajar
dalam tradisi Liberalisme Protestan Jerman di bawah asuhan guru-guru seperti
Wilhelm Herrmann, namun ia bereaksi terhadap teologi ini pada masa Perang Dunia
I. Reaksinya didorong oleh sejumlah faktor, termasuk komitmennya terhadap
gerakan Sosialis Religius Jerman dan Swiss di sekitar orang-orang seperti
Herrmann Kutter, pengaruh gerakan Realisme Alkitab di sekitar orang-orang
seperti Christoph Blumhardt, dan dampak dari filsafat skeptis dari Franz
Overbeck.
Pada dekade setelah
Perang Dunia I, Barth terkait dengan sejumlah teolog lainnya, yang sesungguhnya
sangat berbeda-beda pandangannya, yang bereaksi terhadap liberalisme
guru-gurunya, dalam sebuah gerakan yang dikenal sebagai "Teologi
Dialektis" (bahasa Jerman: Dialektische Theologie). Para anggota lain dari
gerakan ini termasuk Rudolf Bultmann, Eduard Thurneysen, Emil Brunner, dan
Friedrich Gogarten.
Pada tahun 1921, Barth
diundang untuk melayani sebagai dosen teologi Reformasi di Universitas
Gottingen. Barth mengajar bukan hanya tentang tradisi Reformasi, melainkan juga
memberikan eksposisi kitab-kitab di Alkitab. Dari tahun 1925 sampai 1930, Barth
mengajar di Munster, di mana ia juga mulai menulis kedua belas Jilid Church
Dogmatics-nya yang terkenal itu –merupakan magnum opus-nya. Setelah itu Barth
mengajar di Bonn dari 1930 sampai 1935, tetapi ketika ia menolak untuk setia
pada Hitler, ia dipaksa untuk keluar dari Jerman dan Barth kembali ke Basel. Di
Basel Barth mengajar sampai pension tahun 1962.
B. PEMIKIRAN
DAN KARYA BARTH
Pada tahun 1918
lahirlah Commentary on the Epistle to the Romans, yang merupakan respon
terhadap kondisi realitas disekitarnya yang materealistik, terutama Swiss pada
waktu itu. Kecemasan kelemahan moral teologi liberal juga berperan penting
dalam lahirnya tulisan ini. Barth memaparkan tentang kedaulatan mutlak dan
kemerdekaan sempurna Allah dalam memprakarsai pewahyuan di dalam Yesus Kristus.
"Kasih Allahlah yang menyadari perbedaan kualitatif antara Allah dan
manusia dan antara Allah dan dunia," tulisnya. Banyak teolog yang percaya
bahwa karya ini merupakan risalat teologis yang paling penting sejak buku
Friedrich Schleiermacher On Religion: Speeches to its Cultured Despisers
(Tentang Agama: Pidato kepada Para Pencemoohnya yang Beradab).
Dalam hal Bibliografi,
ia mensejajarkan Alkitab dengan Firman Tuhan. Barth menolak pemahaman tentang
suatu tulisan Firman yang tanpa salah, yang disebut sebagai konsep "paus
kertas", bagi Barth para penulis Kitab Suci hanya sekadar berkaitan pada pengalaman
mereka berkaitan dengan wahyu Tuhan, Dalam membaca catatan mereka, seseorang
juga dapat mengalami wahyu Tuhan.
Barth mengkategorikan
Firman Tuhan ke dalam tiga wilayah, per-tama
Firman yang diwahyukan" adalah Tuhan menyatakan diri-Nya sendiri
dengan berbicara pada para rasul dan para nabi, ke-dua "Firman yang tertulis" adalah deposit wahyu yang
dibuat oleh manusia, karena manusia yang menulis Alkitab, maka hal itu tidak
dapat disejajarkan dengan Firman Tuhan, ke-tiga
"Firman yang dikhotbahkan" adalah proklamasi dari Firman, dan
pada waktu anugerah Tuhan memasuki seseorang, maka Alkitab menjadi Firman
Tuhan.
Keseriusan Barth
terhadap Alkitab inilah yang kemudian melahirkan karya pentingnya, yaitu
Dogmatika Gereja (bahasa Jerman: "Die Kirchliche Dogmatik") yang
terdiri dari 13 jilid. Dogmatika Gereja Barth menjadi menarik karena ia ditulis
menggunakan Alkitab, bukan filsafat liberal sebagai dasarnya –sebagaimana yang
dilakukan oleh bnyak teolog semasanya. Meskipun demikian, ia tidak percaya
bahwa kebenaran dapat dinyatakan dalam propasisi doctrinal, menurutnya,
kebenaran-kebenaran adalah perjumpaan melalui pernyataan Allah sendiri di dalam
Kristus.
Dogmatika Gereja
merupakan puncak dari keberhasilan Barth sebagai seorang teolog. Rangkaian
tulisan ini dianggap sebagai salah satu karya teologis yang terpenting dari
segala zaman. Barth mulai menulis Dogmatika itu pada 1932, dan terus
mengerjakannya hingga ajal menjemputnya pada 1968.
C. SEKITAR
KRISTOLOGI
Barth menekankan sentralitas dari
Yesus Kristus dalam teologinya. Kristus harus menjadi titik awal dan pusat dari
teologi. Menurut Barth, tanpa Kristus maka tidak ada pewahyuan. Injil dimulai
dengan ketetapan kekal, pemilihan Yesus Kristus. Barth mengajarkan bahwa
predestinasi adalah pemilihan terhadap Yesus Kristus. Kristus adalah Allah yang
memilih dan manusia yang dipilih, Pemilihan Kristus berarti pemilihan dari
komunitas. Dalam pembahasannya tentang pemilihan ganda, Barth mengajarkan bahwa
Allah dan Kristus mengampuni dengan menanggung konsekuensi dosa yang seharusnya
ditanggung oleh manusia –hal inilah yang kemudian sering mendapat kritikan dari
teolog lain karena condong ke fagam universalisme, yaitu suatu kepercayaan di
mana semua umat manusia pada akhirnya akan diselamatkan. pada saat yang sama,
umat manusia dipilih dan mendapatkan keselamatan dan partisipasi dalam
kemuliaan Allah. Barth menunjuk pada pemilihan komunitas seperti Israel yang
menolak pemilihan atas dirinya dan seperti gereja yang adalah dasar dari pemilihan.
Ia akhirnya menjelaskan pemilihan individu, "yang lain" –sebagaian
besar di mana tidak ada pengecualian. universalisme, Karena Kristus telah
menanggung dosa semua orang, maka semua orang tidak lagi ditola
D. NEO-ORTODOKSI
Dari istilah yang
digunakan kita dapat mendeteksi dua elemen di sana: neo (baru) dan ortodoksi
(ajaran yang benar). Makna sekilas yang tersirat bisa membingungkan. Apakah
neo-ortodoksi berbicara tentang kebenaran yang selama berabad-abad tersembunyi
dan baru ditemukan oleh Barth pada abad ke-20 M? Tentu saja tidak!
Pertama-tama kita perlu
memahami situasi zaman di mana Barth hidup dan memformulasikan teologinya. Pada
masa itu dunia teologi dikuasai oleh orang-orang liberal, terutama di negara
Jerman. Barth adalah salah satu teolog dari gereja yang bertradisi Reformed
yang ingin memberikan respon terhadap liberalisme. Ia menganggap bahwa para
teolog liberal telah melangkah terlalu jauh. Ia ingin meneguhkan ortodoksi.
Sayangnya, ajaran Barth
sendiri tidak memadai. Apa yang ia formulasikan memang berbeda dengan
liberalisme, tetapi tidak termasuk dalam batasan ortodoksi. Konsep dasar dalam
teologi Barth sebenarnya tidak jauh berbeda dengan liberalisme. Karena itu,
ortodoksinya diberi tambahan label “neo”.
Apa yang diajarkan
Barth sehingga teologinya dijuluki neo-ortodoks? Seperti sudah disinggung di
atas, Barth berusaha menentang liberalisme yang menempatkan Alkitab hanya
sebagai kitab kuno biasa tulisan para manusia yang bisa salah. Jika otoritas
Alkitab sebagai firman Allah ditolak, maka doktrin-doktrin di dalamnya pun
tidak lagi dipercayai. Kesejarahan Yesus ditolak. Doktrin tentang pewahyuan,
dosa, penebusan dianggap tidak relevan.
Barth mengusulkan
sebuah pemahaman baru tentang Alkitab. Berbeda dengan orang-orang injili yang
memegang “Alkitab adalah firman Allah,” Barth memahami Alkitab sebagai sebuah
kesaksian tentang firman Allah, yaitu kesaksian tentang Yesus sebagai firman
Allah. Jadi, Alkitab hanyalah firman Allah sejauh Alkitab memberi kesaksian
tentang Yesus.
Barth berpendapat bahwa
Alkitab adalah sebuah sarana perjumpaan dengan firman Allah. Alkitab bisa saja
salah dan tidak berkuasa, namun tatkala isi Alkitab menyentuh hati seseorang,
maka itulah yang disebut firman Allah. Jadi, esensi firman Allah tidak terletak
pada Alkitab, tapi pada perjumpaan pribadi dengan Kristus melalui Alkitab.
Konsep yang terakhir
ini dapat disejajarkan dengan pembedaan antara rhēma dan logos di kalangan
gereja-gereja tertentu: yang tertulis adalah logos, tetapi dalam pembacaan atau
pemberitaan ogos itu berubah menjadi rhēma. Selain dari sisi studi kata
pembedaan logos dan rhēma adalah sangat keliru (logos dan rhēma adalah
sinonim), pembedaan ini dari sisi teologis juga menyesatkan.
Alkitab adalah firman
Allah. Alkitab bukan hanya berisi firman Allah, memberi kesaksian tentang
firman Allah, atau menjadi sarana perjumpaan dengan firman Allah. Respon
manusia – apakah mereka mengerti dan menerima firman Tuhan atau tidak – bukan
ukuran bagi otoritas firman Allah. Alkitab tetap firman Tuhan yang berkuasa,
terlepas dari apa pun respon manusia terhadap Alkitab. Jika manusia meresponi
dengan pengertian, penerimaan, dan ketundukan, firman Allah berkuasa untuk
mengubahkan mereka. Jika manusia menolaknya, firman yang sama berkuasa untuk
menghakimi mereka.
Esensin dari neo-ortodoksi
adalah sebagai berikut." Alkitab bukan wahyu, tetapi kesaksian dari wahyu;
hal itu tidak sama secara objektif dengan Firman Allah; wahyu Allah bukan dalam
perkataan. Yesus Kristus adalah poin fokal dari wahyu Allah: manusia berjumpa
dengan Allah dalam pengalaman perjumpaan dengan Yesus Kristus.
Peristiwa-peristiwa dari Kitab Suci, seperti kebangkitan Kristus, diistilahkan
geschichte, "cerita", sebagai kontras dengan historie,
"sejarah". Geschichte menunjuk pada ketransendenan, kebenaran berdasarkan
pengalaman akan Allah yang tidak dipengaruhi oleh kebenaran atau kekeliruan
yang merupakan karakteristik dari partikular historie yang terikat dengan bumi.
Historie secara historis dapat diverifikasi, karena itu, level yang lebih
rendah dari Kitab Suci di mana kesalahan-kesalahan dapat dan telah ditemukan.
Geschichte secara historis tidak dapat diverifikasi dan, karena itu, level yang
lebih tinggi dari Kitab Suci di mana kesalahan-kesalahan tidak dapat ditemukan.
Karena itu, tidaklah penting apakah cerita-cerita di Alkitab itu benar¬benar
terjadi dalam ruang dan waktu; fakta bahwa banyak catatan Alkitab adalah
"mite" atau "saga" tidak mempengaruhi artinya yang lebih
tinggi dan keabsahannya. Allah adalah transenden, "yang sama sekali
lain", Perbedaan yang tajam ada antara manusia dan Allah; manusia dapat
bersekutu dengan Allah hanya melalui suatu "loncatan iman".

Play'n GO - Casino Directory - DRMCD
BalasHapusPlay'n GO Casino Directory Play'n GO was established 김천 출장샵 in 2018, established 군포 출장안마 back in 2016. Our online 경산 출장안마 casino features 의왕 출장마사지 200+ 동두천 출장샵 games, including blackjack, roulette,