Senin, 03 Oktober 2016

Reinhold Niebuhr

A.   Reinhold Niebuhr
Reinhold Niebuhr merupakan teolog Amerika, ahli etika, dan filsuf politik. Niebuhr dilahirkan di kota Wright, Missouri, pada 21 Januari 1892. Ibunya adalah kedua generasi Jerman Amerika. Ayahnya, seorang imigran Jerman, pendeta di Sinode Injili Amerika Utara, keturunan Prusia Uni Gereja, yang didominasi Lutheran dengan strain Kalvinisme. Di usia sepuluh tahun Niebuhr menyatakan bahwa ia ingin menjadi seorang Menteri karena ayahnya adalah orang paling menarik di kota tersebut.
Setelah studi di sekolah-sekolah keagamaan Elmhurst College dan Edentheological Seminari, Niebuhr masuk Yale Divinity School, tempat dia memperoleh gelar M.A. (1915) dan B.D (1914). Sembari memulai program studi doktor, ia menerima tugas penggembalaan di Detroit, dengan alasan keuangan keluarga (ayahnya meninggal pada tahun 1913).[1]
Tulisan-tulisannya yaitu: Moral Man and Immoral Society, 1932; An Interpretation of Christian Ethics, 1935; Beyond Tragedy, 1938; Christianity and Power Politics, 1940; The Nature and Destiny of Man, 2 Vols., 1941-3; The Children of Light and the Children of Darkness, 1944; Faith and History, 1949; Christian Realism and Political Problems, 1953; Pious and Secular America, 1958.
(1) Mengembangkan teologi Protestan disebut transendensi, di mana Allah dianggap sebagai "Wholly other", Niebuhr menekankan adanya dosa asal karena kejatuhan manusia. Kesombongan manusia dan keegoisan adalah tanda-tanda kejatuhan ini. Ini adalah tragedi manusia yang ia dapat memahami kesempurnaan diri, meskipun ia tidak dapat mencapainya. Dan meskipun manusia adalah semangat bebas dan dengan demikian bertanggungjawab kepada Tuhan untuk menggunakan kebebasan ini, ada sebuah elemen setan yang menanamkan semua tindakannya. Untuk alasan ini perkembangan moral tidak hanya terjadi dalam sejarah.
(2) Secara politis, Niebuhr percaya pada realisme liberal mampu mengenali irasionalitas manusia untuk mengarahkan mereka secara rasional. Dalam penilaian semacam ini tampaknya jelas baginya bahwa perubahan kelembagaan yang lebih penting daripada perubahan hati berusaha mencapai masyarakat yang baik. Meskipun menentang utopis visi, ia percaya dalam penciptaan sistem keadilan, dan penyesuaian sosial yang diperlukan dalam rangka americal kapitalisme. Di luar politik, Niebuhr percaya realisme Kristen, sebuah sudut pandang yang berlaku untuk perspektif sosial wawasan transendensi yang disebutkan dalam (1) di atas.[2]
Keberatan Niebuhr terhadap Social Gospel ialah gerakan ini mempunyai pandangan yang terlalu optimis terhadap kenyataan manusia dan masyarakat, sehingga penilaian-penilaiannya terlalu terasing dari kenyataan yang sebenarnya. Itulah sebabnya gerakan ini menghadapi banyak kekecewaan. Niebuhr sendiri ingin lebih realistis. Hal ini disebabkan ia sendiri mengalami perjalanan hidup yang istimewa, terlebih-lebih karena praktiknya yang lama sebagai pendeta di kota industry yang besar, yaitu selama 13 tahun bekerja di tengah-tengah para pekerja Pabrik Ford. Di situlah ia terpesona akan liberalisasi yang tidak sungguh-sungguh dan yang dikuasai oleh egoism. Itulah sebabnya ketika ia menjadi guru besar perhatiannya dicurahkan pada persoalan-persoalan sosial.[3]
Untuk ini serangan terhadap "liberalisme", Niebuhr sering disebut "neo-Orthodox" istilah yang ia tidak sukai. Dia sudah menyinggung Ortodoks dengan memperlakukan keyakinan  "mitos", dan dia sudah menyinggung kaum liberal dengan mengambil mitos tersebut "serius, tapi tidak secara harfiah". Dia menyediakan interpretasi Kristen tentang keyakinan penciptaan manusia dalam gambar Tuhan, kejatuhan, dosa asal, pembenaran oleh iman dan kerajaan yang akan datang dari Allah.
Ide-ide utama. Niebuhr sering membantah bahwa ia adalah seorang teolog. Dia kadang-kadang menggambarkan dirinya adalah seorang pengkhotbah sirkuit-kuda dengan minat etika. Dia punya sedikit ketertarikan basa-basi doktrin. Namun, wawasan kepala telah bergema melalui seluruh teologi.[4]
Agama Kristen telah mengubah bentuk mite-mite keagamaan yang primitive, tanpa dijadikannya rasional sama sekali, umpamanya: mite penciptaan. Rantai sebab akibat yang besar, yang menghubungkan “keberadaan” yang satu dengan “keberadaan” yang lain, tidak dapat diterangkan dari hokum sebab akibat yang bersifat alami itu. Orang tidak akan sampai pada sebab yang pertama.
Bukan hanya penciptaan, melainkan juga kejatuhan ke dalam dosa diuraikan dalam bentuk mite. Namun sebenarnya, kejatuhan dosa yang diuraikan dalam Kejadian 3 itu bukanlah suatu fakta sejarah, melainkan dasar segala perbuatan kita. Oleh karena itu, “status kebenaran” yang historis sebenarnya juga tidak ada (tidak pernah ada manusia yang tanpa dosa). Yang dimaksud dengan “kesempurnaan” sebelum kejatuhan dosa ialah “kesempurnaan” sebelum perbuatan dilakukan.
Menurut Niebuhr, Social Gospel tidak mempunyai pengertian tentang manusia karena Social Gospel tidak memperhitungkaan dosa, dengan akibat hubungan paradoksal antara yang terbatas dengan yang tidak terbatas ditiadakan. Ajaran Alkitab tidaklah demikian. Menurut Niebuhr, mite Alkitab tentang kejatuhan ke dalam dosa menunjukkan jalan keluar yang benar terhadap persoalan tentang kebebasan dan dosa. [5]

B.   H. Richard Niebuhr

Helmut Richard Niebuhr adalah seorang teolog Amerika. Lahir di kota Wright, Missouri. Pendidikan di Elmhurst College, Eden Theological Seminary, Washington University, Universitas di Chicago,Yale Divinity School. Mengajar di Eden Theological Seminary, dan Yale Divinity School.
Tulisan-tulisan teologisnya antara lain: Moral Relativism and the Christian Ethic, 1929; The Social Sources of Denominationalism, 1929; The Kingdom of God in America, 1937; Christ and Culture, 1951; Radical Monotheism and Western Culture, 1960; The Responsible Self: An Essay in Christian Moral Philosophy, 1963.[6]
Dasar pemikiran etis H.R. Niebuhr terdapat dalam cara berpikir yang Trinitas, dengannya ia mengakui bahwa Allah itu Alkhalik, Pemerintah, Hakim, dan Penyelamat. Namun, pengertian tentang Allah yang Tritunggal ini bukan diuraikan secara teoretis, sebab pengertian itu dipandang sebagai sebagian dari pengalaman masyarakat susila yang menganggap dirinya bertanggung jawab terhadap Allah.[7]
Di satu pihak Niebuhr menolak pendirian teologi liberal yang mengambil etikanya hanya dari ajaran Yesus, dan di lain pihak ia menolak pendirian golongan fundamentalis yang menganggap Alkitab sebagai satu-satunya sumber pengetahuan kita mengenai tanggung jawab kita dalam hidup moral. H.R Niebuhr tidak yakin, bahwa segala hikmat itu hanya berasal dari Alkitab saja. Menurutnya hikmat dapat diterima juga dari ilmu filsafat, dari ilmu jiwa dan ilmu-ilmu kemasyarakatan. Sekalipun demikian, ia mengakui juga wibawa Alkitab, namun wibawa itu ialah “wibawa penengah”, yang diturunkan dari “wibawa yang lain”. Hanya Allahlah yang memiliki wibawa yang mutlak.[8]
Salah satu puncak etika H.R. Niebuhr terdapat dalam bukunya Christ and Culture (Kristus dan Kebudayaan), yang ditulis pada tahun 1951. Di sini dikemukakan bahwa bahaya yang paling besar yang mengancam gereja bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam gereja itu sendiri, yaitu bahwa gereja menyesuaikan diri dengan struktur-struktur kemasyarakatan yang ada. Di dalam buku ini Niebuhr mengemukakan lima pola sikap gereja terhadap kebudayaan, seperti yang telah terjadi didalam sejarah.
Pola pertama disebutnya sikap gereja yang menentang kebudayaan. Dalam sikap ini orang Kristen menentang kebudayaan, ia harus memilih di antara dua, yaitu Kristus atau kebudayaan. Menurut Niebuhr, di dalam Alkitab sudah tampak gejala-gejala yang demikian itu, yang paling jelas tercantum dalam Surat 1 Yohanes.
Pola kedua diungkapkan dalam Christ of Culture (Kristus dari Kebudayaan). Sikap ini berkeyakinan bahwa Kristuslah yang memiliki kebudayaan. Oleh karena itu, orang beriman harus berusaha menyesuaikan diri dengan masyarakat. Tetapi tidak semua unsur kebudayaan diterima, hanya yang baik-baik saja dan yang cocok dengan kepercayaan Kristiani. Oleh mereka Kristus dipandang sebagai Yang menggenapi kekurangan cita-cita masyarakat.
Pola ketiga diungkapkan dalam Christ above Culture (Kristus di atas Kebudayaan). Dalam sikap ini Kristus di satu pihak dipandang sebagai Yang menggenapi kekurangan kebudayaan, namun di lain pihak Ia dipandang berbeda dengan kebudayaan.
Pola sikap yang keempat dirumuskan dengan ungkapan Christ and Culture in Paradox (Kristus dan Kebudayaan dalam Paradoks, atau Perlawanan yang Asasi). Di sini orang memisahkan Kristus secara asasi dari kebudayaan.
Pola sikap kelima dirumuskan oleh Niebuhr dengan ungkapan Christ Transforming Culture (Kristus mengubah/membarui Kebudayaan). Orang-orang ini (Yohanes Calvin, H.R. Niebuhr) tidak buta terhadap segala kejahatan di dalam masyarakat. Sekalipun demikian, kebudayaan tidak ditolak dan tidak dihindari oleh mereka. Orang Kristen wajib memperbaiki masyarakat-masyarakat itu. Sikap inilah yang dianjurkan oleh H.R. Niebuhr.
Dengan ini secara singkat telah dikemukakan usaha Niebuhr bersaudara untuk mengubah pemikiran teologi di Amerika Serikat.[9]






[1]William L. Reese, “Dictionary of Philosophy and Religion”, (New York: Humanity Books), h.431
[2]The Encyclopedia of Religion, (New York: MACMILLAN LIBRARY REFERENCE USA, Vol.IX), h.522
[3]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2004, Cet.VI), h.167
[4]William L. Reese, “Dictionary of Philosophy and Religion”, h.433
[5]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h. 170-172
[6]The Encyclopedia of Religion, (New York: MACMILLAN LIBRARY REFERENCE USA, Vol.IX), h.521
[7]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.176
[8]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.180
[9]Dr. Harun Hadiwijono, “Teologi Reformatoris Abad ke 20”, h.182-185

1 komentar: